Berlangganan RSS RSS Feed

TINJAUAN YURIDIS KRIMINOLOGIS TERHADAP TINDAKAN ATAU UPAYA BUNUH DIRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DAN REMAJA DIKAITKAN DENGAN PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA

TINJAUAN YURIDIS KRIMINOLOGIS TERHADAP TINDAKAN ATAU UPAYA BUNUH DIRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DAN REMAJA DIKAITKAN DENGAN PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA

Ami Jupon Sutomo

NPM: AX0.05.0553

Pembimbing:

Yesmil Anwar, S.H., M.Si.

 Wanodyo Sulistyani, S.H., M.H.

 

ABSTRAK


Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat akhir-akhir ini membawa perubahan yang begitu cepat dimasyarakat, termasuk perubahan gaya hidup yang dilakukan oleh orang tua, guru dan anak. Perubahan ini membawa masyarakat dituntut untuk lebih bertindak cepat, kreatif, dan hidup dalam iklim yang kompetitif, akan tetapi perubahan ini tidak diimbangi seiring dengan nilai-nilai yang hidup dimasyarakat, sehingga menimbulkan  gejala sosial di masyarakat seperti maraknya kekerasan yang dilakukan oleh orang tua, guru dan anak yang berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak. Kondisi ini yang melatarbelakangi terjadinya bunuh diri anak. Penulisan tugas akhir ini terkait dengan perlindungan anak di Indonesia. Permasalahan yang diangkat mengenai faktor penyebab yang melatarbelakangi terjadinya tindakan atau upaya bunuh diri anak dan remaja serta upaya apa yang dapat dilakukan orangtua, sekolah, masyarakat dan negara dalam memberikan perlindungan dan pencegahannya.

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini bersifat deskriptif analitis, yaitu menggambarkan fakta-fakta mengenai tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja kemudian dikaitkan dengan teori-teori kriminologi yang berhubungan untuk kemudian dianalisis sehingga diperoleh jawaban atas identifikasi masalah yang telah dirumuskan. Metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis kriminologis yang dilakukan dengan mengkaji, menguji dan menerapkan asas-asas hukum pada peraturan perundang-undangan yang berlaku kedalam keadaan yang terjadi pada tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja. Teknik pengumpulan data dari penelitian ini dilakukan dengan cara studi literatur untuk memperoleh data sekunder dan wawancara dengan narasumber untuk mendapatkan data primer.

 

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh penulis menunjukan bahwa tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja disebabkan oleh faktor tindakan kekerasan psikologis atau verbal yang dilakukan oleh orang-orang terdekat bagi anak, baik dilakukan dirumah, disekolah, dan dilingkungan tempat bermain anak serta ketidakmampuan anak dalam mengatasi permasalahannya, upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya tindakan atau upaya bunuh diri anak dan yaitu dengan mengoptimalisasikan peran, fungsi dan tugas dari keluarga (Orangtua), Institusi Pendidikan (Guru), Masyarakat dan Negara, seperti membangun komunikasi yang hangat, harmonis dan berkesinambungan kepada anak.

 

 

ABSTRACT

 

Advances in science and technology are rapidly bringing the recent rapid change in the community, including lifestyle changes made by parents, teachers and children. This change brings more people are required to act quickly, creatively, and live in a competitive climate, but this change is not matched in line with the values that live in the community, giving rise to social phenomena in society such as the rampant violence by parents, teachers and children who have an impact on the growth and physical and mental development of children. These conditions underlying the occurrence of suicidal children. This thesis related to child protection in Indonesia. Concerns raised about the underlying causes of action or attempted suicide of children and adolescents as well as efforts to do what parents, schools, communities and countries in providing protection and prevention.The research method used in the writing of this thesis is analytical descriptive, that describe the facts concerning the action or suicide attempts by children and adolescents and is associated with criminological theories related to later be analyzed in order to obtain answers to the identification of problems that have been formulated . The method used is a juridical approach kriminologis done by examining, testing and applying legal principles to the laws and regulations applicable into the circumstances that occurred in the action or suicide attempts by children and adolescents. Data collection techniques from the research done by the study of literature to obtain secondary data and interviews with informants to obtain primary data.The results of research conducted by the authors showed that the action or suicide attempts made by children and adolescents are caused by psychological factors or verbal acts of violence committed by those closest to the child, whether done at home, at school, and children’s playground and the environment child’s inability to overcome the problem, an effort that can be done to prevent the occurrence of suicidal acts or attempts to optimize the child and the roles, functions and duties of the Family (Parent), Institution of Education (Teacher), Society and the State, such as building a warm communication, harmonious and sustainable to the child.

Keyword/Kata Kunci : bunuh diri anak dan remaja

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sering dikejutkan dengan adanya pemberitaan tentang bunuh diri. Menurut data organisasi kesehatan dunia WHO sedikitnya 50 ribu orang Indonesia meninggal dunia akibat bunuh diri. Data yang dihimpun pada tahun 2005-2007 sekitar 41% bunuh diri dilakukan dengan cara  Gantung diri dan 23% dengan cara meminum serangga. Secara umum bunuh diri yang dilakukan akibat faktor kemiskinan dan tekanan ekonomi.[1]  Namun pada saat ini ada fenomena bunuh diri baru yang terjadi yaitu fenomena bunuh diri dikalangan remaja dan anak. Adapun penyebab kasus bunuh diri yang dilakukan anak dan remaja ini sebagian besar dilakukan karena masalah sepele seperti masalah disekolah contohnya karena tidak lulus ujian, tidak mampu melanjutkan sekolah, ejekan (Bullying) dari teman atau guru dan alasan-alasan lain.

Bullying adalah salah satu penyebab anak atau remaja melakukan tindakan atau upaya bunuh diri. Bullying adalah tindakan yang membuat seseorang merasa teraniaya atau direndahkan baik dilakukan secara verbal maupun, fisik maupun mental. Tindakan ini bukan hanya dilakukan oleh teman sekolah saja melainkan ada juga yang dilakukan oleh para guru. Pada tahun 2007 Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia melaporkan terjadi 555 kasus kekerasan terhadap anak, dimana 11,8 persen kekerasan tersebut dilakukan oleh guru. Kemudian ditahun 2008 Dari 86 kasus kekerasan yang dilaporkan, 39 persennya dilakukan oleh guru. Yayasan Sejiwa mencatat, korban dari akibat tindak kekerasan dalam rentang 2002-2005 adalah sebanyak 30 kasus termasuk korban bunuh diri maupun percobaan bunuh diri di kalangan anak dan remaja berusia 6 sampai 15 tahun.[2] Sementara penanganan terhadap korban kekerasan yang mengakibatkan percobaan bunuh diri pada anak tersebut belum terlihat penangannya baik oleh sekolah maupun orang tua.

Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak diadakan dengan tujuan menjamin terpenuhinya hak-hak atas anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Undang-Undang perlindungan anak memberikan perlindungan terhadap anak-anak untuk dapat melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai anak pada umumnya. Perlindungan terhadap anak dilakukan dengan berpedoman pada 4 prinsip yang diatur dalam Pasal 2 UU Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-hak Anak yang meliputi :

  1. non-diskriminasi;
  2.  kepentingan yang terbaik bagi anak;
  3.  hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan
  4.  penghargaan terhadap pendapat anak.

Asas perlindungan anak disini sesuai dengan prinsip-prinsip pokok yang terkandung dalam Konvensi Hak anak. Prinsip non-diskriminasi diartikan bahwa perlindungan anak dilakukan dengan tidak melakukan pembedaan-pembedaan atas faktor suku, ras, agama, golongan, dan jenis kelamin. Kedua, Asas kepentingan yang terbaik bagi anak diartikan bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak yang harus menjadi pertimbangan utama dalam mengambil sebuah kebijakan yang berhubungan dengan anak. Ketiga, Pengertian asas hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan anak adalah bahwa hak-hak asasi yang mendasar bagi anak wajib dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua, dimana semua elemen tersebut diatas diwajibkan memberikan pengawalan terhadap hak-hak yang melekat pada anak sejak dari kandungan sebagai bekal kehidupannya kelak. Keempat asas penghargaan terhadap pendapat anak adalah adanya penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan, terutama terhadap hal yang berkaitan dengan kehidupan anak.[3] Anak diberikan hak untuk mengembangkan diri melalui kebutuhan dasar melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan demi meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan anak.

Fenomena bunuh diri pada anak-anak dan remaja menarik untuk disoroti lebih lanjut. Tindakan atau upaya bunuh diri pada anak dan remaja harus segera dicari penanganannya guna mengantisipasi meluasnya angka kasus bunuh diri dimasyarakat. Sehingga, berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis tertarik untuk membuat penelitian dengan judul “TINJAUAN YURIDIS KRIMINOLOGIS TERHADAP TINDAKAN ATAU UPAYA BUNUH DIRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DIKAITKAN DENGAN PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA”.

 

B.     Permasalahan

Berdasarakan latar belakang masalah di atas, maka pembahasan ini akan dibatasi dan terkait dengan:

  1. Faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukakan oleh anak ?
  2. Bagaimanakah peranan orang tua, masyarakat, pemerintah dalam memberikan perlindungan dan pencegahan terhadap tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja dikaitkan dengan upaya perlindungan anak di Indonesia ?

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Bunuh diri adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan nyawa sendiri.[4] Orang yang melakukan tindakan bunuh diri, mempunyai pikiran dan prilaku bunuh diri, merupakan perwakilan dari kesungguhan untuk mati dan juga merupakan manifestasi kebingungan pikiran tentang kematian.[5]

Bunuh diri merupakan masalah yang kompleks, karena tidak diakibatkan oleh penyebab atau alasan tunggal. Tindakan atau upaya bunuh diri merupakan interaksi yang kompleks dari berbagai faktor seperti faktor biologik, psikologik, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sulit untuk menjelaskan mengapa seseorang memutuskan untuk melakukan tindakan atau upaya bunuh diri termasuk bunuh diri yang terjadi pada anak dan remaja. Akan tetapi untuk memudahkan dalam membedakan bunuh diri anak dan remaja dengan orang dewasa dapat dilihat berdasarkan fase-fase pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan kepribadian anak.

Pusat Psikiatri Universitas Texas (2007) dan sumber lain menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab bunuh diri yang terjadi pada anak dan remaja disebabkan oleh :[6]

  1. Permasalahan dengan Orang tua (broken home)
  2. Kekerasan dalam rumah tangga
  3. Dipermalukan teman, baik disekolah maupun ditempat bermain anak (Bullying)
  4. Diabaikan oleh keluarga dan teman
  5. Putus hubungan dengan kekasih
  6. Depresi.

Faktor diatas bukanlah faktor penentu yang pasti mengapa seorang anak dan remaja memutuskan untuk melakukan tindakan atau upaya bunuh diri, karena permasalahan bunuh diri memiliki permasalahan yang kompleks dan terkait dengan faktor lain yang melemahkan atau menguatkan seorang anak dan remaja untuk melakukan tindakan atau upaya bunuh diri.[7]

Selain itu Penelitian yang dilakukan Kriminolog Ronny Nitibaskara terdapat 4 (empat) temuan mengapa seorang anak dan remaja berani melakukan tindakan atau upaya bunuh diri. [8]

  1. Kesulitan beradaptasi terhadap lingkungan tempat anak menjalankan kehidupannya sebagai seorang anak, seperti lingkungan keluarga , lingkungan sekolah, dan lingkungan pergaulan anak diluar rumah.
  2. Adanya perasaan terisolasi atau merasa jauh dari orang yang dikasihi.
  3. Adanya kemarahan atau perasaan permusuhan baik dengan dirinya maupun dengan orang lain.
  4. Tangisan meminta tolong (Crying For Help)

Penyebab yang pertama adalah faktor yang dialami ketika seorang anak tidak mampu dihadapkan dengan permasalahannya, kemudian berkembang menjadi sebuah tekanan yang besar. Ketika tekanan ini menjadi besar maka anak menjadi semakin bingung sehingga menyebabkan anak menjadi depresi dan mengambil cara lain untuk menyelesaikan permasalahannya dengan tindakan diluar prilaku masyarakat pada umumnya. Contoh kasus bunuh diri ini terjadi pada Basir yang tidak mampu menanggung malu karena diejek oleh gurunya disekolah sebagai anak gembel.[9]

Penyebab yang kedua adalah perasaan terisolasi dari orang yang disayangi. Kondisi ini bisa terjadi pada remaja yang sedang mengalami permasalahan asmara dengan kekasih. Baik permasalahan yang muncul akibat larangan dari orang tua maupun putus cinta dengan kekasihnya. Kasus upaya bunuh diri ini terjadi pada Nindita Widya Hutami yang hubungan asmaranya tidak disetujui oleh orangtuanya.[10]

Penyebab yang ketiga disebabkan karena adanya kemarahan atau perasaan permusuhan baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain. Penyebab ini merupakan sebuah cara yang digunakan anak atau remaja karena kekecewaan atau kegagalan terhadap permasalahan yang dihadapi anak dan remaja sehingga tindakan atau upaya bunuh diri merupakan sebuah hukuman yang diproyeksikan terhadap diri. Kasus bunuh diri ini terjadi pada Wahyu Ningsih pelajar SMK di Jambi yang dinyatakan tidak lulus ujian nasional pada tahun 2010.

Kondisi pendidikan di Jakarta akan sangat berbeda dengan kondisi pendidikan di Jambi. Seperti fasilitas dan sarana untuk menunjang program pendidikan juga kualitas dari pengajar yang telah bersertifikasi. Jika dikaitkan dengan teori kriminologi, dimana dalam teori anomi Robert K merton menjelaskan bahwa penyimpangan prilaku bukan hanya terjadi karena perubahan sosial yang cepat saja (sudden social change) akan tetapi dipengaruhi juga oleh struktur sosial (social structure) yang menawarkan tujuan-tujuan yang sama bagi semua anggotanya tanpa memberi sarana yang memadai dan merata untuk mencapainya.[11]  Hal ini dapat kita lihat bahwa disparitas antara tujuan yang diharapkan oleh pemerintah yaitu sukses di bidang pendidikan tidak diimbangi dengan sarana dan kesiapan yang memadai dalam dunia pendidikan.

Keempat adalah tangisan minta tolong (crying for help). Tindakan atau upaya bunuh diri merupakan tindakan untuk meminta pertolongan kepada orang lain dengan tujuan membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi anak dengan cara-cara yang menyimpang.[12] Tujuan dari upaya bunuh diri ini sebenarnya tidak sungguh-sungguh untuk dilakukan, melainkan hanya sebuah bentuk meminta perhatian kepada orang lain untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Faktor selanjutnya mengenai perubahan gaya dan cara hidup yang dilakukan oleh sebagian orang tua yang dipengaruhi oleh perubahan global di bidang komunikasi dan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedikitnya berdampak negatif bagi kemajuan tersebut. Sutherland berpendapat bahwa prilaku kriminal (perbuatan menyimpang) merupakan prilaku yang dipelajari dalam lingkungan sosial. Hal ini berarti semua tingkah laku dapat dipelajari dengan berbagai cara termasuk prilaku menyimpang, oleh karena itu perbedaan yang conform dengan kriminal adalah apa dan bagaimana sesuatu itu dipelajari.[13] Sutherland juga mendefinisikan Asosiasi Diferensial adalah sebagai “ the contents of the patterns presented in association would differ from individual to individual”. Hal ini tidaklah berarti bahwa hanya kelompok pergaulan dengan penjahat akan menyebabkan prilaku kriminal, akan tetapi yang terpenting adalah isi dari proses komunikasi dengan orang lain.[14] Jadi peranan komunikasi disini menjadi penting dalam terjadinya penyimpangan  prilaku.

Fenomena tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja merupakan tolak ukur adanya suatu ketidakmampuan anak dan remaja dalam mengatasi stressnya. Hal ini menjadikan bukti dari ketidakberhasilan keluarga (orangtua), tenaga pendidik (guru), masyarakat dan pemerintah dalam membekali anak mengenai keterampilan dalam menyikapi setiap permasalahan yang muncul seputar kehidupan anak dan remaja. Fenomena ini merupakan faktor penyebab kasus bunuh diri yang terjadi pada anak dan remaja yang bersifat multifaktor.

Upaya preventif dapat dilakukan oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu seperti psikolog, psikiater, dokter, sosiolog, kriminolog, tenaga kesehatan dan lain-lain dalam mengatasi kasus bunuh diri yang terjadi pada anak dan remaja. Hal ini dikarenakan begitu kompleksnya permasalahan bunuh diri yang terjadi dan tergantung dari pendekatan ilmu yang digunakan dalam melihat fenomena bunuh diri. Dari pendekatan kriminologi, terdapat beberapa hal yang perlu disikapi sebagai upaya pencegahan dalam mengatasi permasalahan tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja.

Upaya ini dapat dilakukan melalui optimalisasi peran, fungsi, dan tugas, dari keluarga, institusi pendidikan (sekolah), masyarakat dan negara dalam meminimalisasi praktek-praktek kekerasan psikologis (Bullying) yang berimplikasi terhadap bunuh diri yang terjadi pada anak dan remaja (Bullycide). Upaya optimalisasi peran, fungsi, dan tugas dalam keluarga yaitu dengan memberikan porsi yang tepat terhadap masing-masing komponen keluarga dalam menjalankan peran, fungsi, dan tugasnya dengan rasa tanggung jawab, saling menghormati menghargai, penuh kasih sayang dan tidak bersikap egois.[15] Upaya ini sesuai dengan pendekatan kriminologi dengan upaya kontrol (control theory) dimana Attachment (pemberian kasih sayang), Commitment (keterikatan seseorang pada subsistem), Involvement (keterlibatan), beliefs (kepercayaan) terjadi pada lingkungan anak.

Selain itu orang tua harus sedini mungkin membekali anak-anaknya dengan ilmu agama sehingga dapat mengetahui ajaran agama secara benar melalui bimbingan dengan nilai-nilai agama dan pemberian tauladan berprilaku yang baik agar menjadi contoh bagi anak khususnya pada usia balita, pra sekolah, dan usia sekolah. Orang tua perlu juga memperkenalkan secara bijaksana dengan umur anak tentang tindakan atau upaya bunuh diri dalam agama sebagai sebuah tindakan yang dilarang dan diberi label pendosa bagi siapa yang melakukannya. Pola asuh ini harus dilakukan secara tepat dan tidak keluar dari norma agama, moral dan hukum.[16] Upaya ini sesuai sesuai dengan salah satu mode adaptasi yang dikemukakan oleh Robert K Merton dalam mengatasi prilaku menyimpang yaitu Mode adaptasi Ritualisme, upaya ini bertujuan menurunkan atau meredakan ketegangan atau tekanan dengan cara memperkecil skala aspirasi-aspirasi sampai dititik yang dapat dicapai dengan mudah[17]

Upaya lain dalam mengoptimalisasikan peran, fungsi dan tugas dalam keluarga yaitu dengan membangun komunikasi yang hangat, harmonis dan berkesinambungan. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari misskomunikasi dan kecurigaan pada setiap anggota keluarga. Komunikasi ini diperlukan untuk meningkatkan fungsi asih, asuh, asah dengan mampu meluangkan waktu bagi anak, Sehingga terpenuhi kebutuhan psikologisnya. Pemenuhan kebutuhan psikologi ini akan membuat anak memiliki mekanisme koping positif dan mampu mengatasi masalah secara adaptif. Hal ini perlu dilakukan agar anak tidak sungkan dan tidak takut untuk bercerita, berkeluh kesah dan meminta membantu memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi oleh anak kepada kedua orang tua maupun pengasuhnya. Orang tua juga harus mampu mempertahankan suasana ramah yang harmonis dan menguntungkan demi perkembangan kepribadian anggota keluarga.[18]

Upaya pencegahan juga harus dilakukan dengan mengoptimalisasi peran, fungsi dan tugas didalam institusi pendidikan atau sekolah, baik yang dilakukan oleh guru maupun teman disekolah. Optimalisasi ini diawali dengan membangun pengelolaan sekolah yang baik dalam memberikan proses pembelajaran dengan rasa aman, nyaman tanpa kekerasan terhadap peserta didik. Sekolah juga harus mampu menghindari proses pembelajaran dan sikap guru yang bersifat destruktif terhadap aspirasi anak yang membuat anak merasa takut untuk berpendapat, cemas, malu dan lain-lain yang mampu mempengaruhi psikologis anak secara negatif dan bertindak maladaptif.[19]

Sekolah juga harus mampu mengajarkan dan membentuk kepribadian anak yang tangguh dalam mengahadapi dan memecahkan setiap permasalahan anak dengan berbagai alternatif pemecahan masalah dan membantu memikirkan tindakan-tindakan lain dan berpikir resiko-resiko lain jika tindakan tersebut dilakukan. Metode pembelajaran ini dibangun dengan tujuan mengajarkan kelenturan bagi anak dalam memecahkan permasalahan baik disekolah maupun diluar sekolah. Jika dikaitkan dengan kriminologi upaya ini sesuai dengan mode apatasi Innovation yang bertujuan menerobos halangan-halangan dalam pencapaian tujuan budaya (sukses) melalui cara.[20]

Upaya lain yang dapat dilakukan sekolah yaitu dengan mengajarkan dan meningkatkan fungsi sosio emosional empati. Pengembangan empati menjadi relevan guna membangun aspek-aspek manusiawi individu. Empati membantu anak mengetahui dan memahami emosi orang lain dan berbagai perasaan dengan orang lain. Melalui empati anak dituntut untuk mengubah pola pikir menjadi fleksibel dalam menghadapi masalah. Pola pikir yang egois akan berubah menjadi toleran.[21]

Pola pikir sperti ini menjadikan anak mengerti, bahwa tidak semua keinginan terhadap orang lain dapat terpenuhi, dan memiliki inisiatif membantu orang lain yang berada dalam kesulitan. Kemampuan anak untuk membayangkan perasaan seseorang dan berpikir dalam keseluruhan sikap mental emosional orang lain menjadi dasar pengembangan empati. Anak memerlukan kesadaran diri, keterbukaan pada emosi diri dan keterampilan membaca perasaan, sehingga dapat melihat dirinya pada peran yang dimainkan oleh orang lain. Pada kemampuan itu  anak memahami, mengenali, dan memberi nama (label) secara tepat terhadap emosi-emosi yang dirasakan. Dengan demikian tidak ada kebingungan pada anak dalam mendefinisikan apa yang sedang bergolak dalam perasaannya dan kesalahan penggunaan sikap atau prilaku (coping behavior) tak akan terjadi.[22]

Pada pemahaman cara pandang anak seperti ini akan memperlihatkan bagaimana dia memandang aneka kejadian sehari-hari dari sudut pandang orang lain, sehingga membuatnya mampu mengantisipasi prilaku dan reaksi orang lain. Melalui empati akan membentuk dan mengasah kemampuan anak untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. Dengan empati anak tidak hanya keluar dalam usaha memahami orang lain, akan tetapi melakukan pemahaman internal terhadap diri.

Upaya lain dalam rangka mengoptimalisasi peran, fungsi dan tugas dalam tingkat masyarakat yaitu dengan memberdayakan kembali lembaga terdekat yang ada dimasyarakat seperti kelompok ibu-ibu PKK, Posyandu, paguyuban dan lain-lain. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar kelompok masyarakat dapat peka dengan keadaan sekitar dengan memberikan perhatian, bimbingan dan bantuan untuk membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi anak dan keluarga. Upaya lain dengan menghindari sikap-sikap menjauhi, mengisolasi, mengejek atau mencela seseorang atau keluarga yang mengalami permasalahan hidup karena hal itu akan menambah stressor yang dirasakan semakin memberatkan.[23]Upaya selanjutnya yaitu menghilangkan secara perlahan-lahan nilai-nilai budaya yang dipercaya suatu masyarakat yang sebenarnya salah terkait dengan bunuh diri seiring meningkatnya tingkat pengetahuan, pendidikan keluarga dan masyarakat. Upaya ini sesuai dengan mode adaptasi Conformity yaitu penyesuaian diri dalam melanjutkan pencapaian tujuan budaya berupa sukses dengan cara mempercayai atas legitimasi sarana-sarana yang konvensional (institutionalised means) seperti orang tua, guru dan masyarakat.[24]

Upaya optimalsisasi peran, fungsi dan tugas negara dalam meminimalisasi praktek-praktek kekerasaan psikologis  (Bullying) yang berimplikasi terhadap tindakan atau upaya bunuh diri anak dan remaja (Bullicide) yaitu dengan membentuk kebijakan anti Bullying yang terintegrasi dengan orang tua, sekolah, dan masyarakat. Kebijakan ini dapat muncul dalam bentuk undang-undang dengan landasan hukum perlindungan anak. Hal ini dilakukan untuk melindungi anak dari prilaku bullying yang berdampak bullycide dengan  adanya undang-undang ini maka masyarakat luas akan semakin paham mengenai apa itu bullying, batasan prilaku yang dianggap bullying dan konsekuensi apa yang akan didapat oleh pelaku bullying.[25]

 

 

KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

            Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya terkait tinjauan terhadap tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja dihubungkan dengan undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, disimpulkan :

  1. Tindakan atau upaya bunuh diri yang terjadi pada anak dan remaja disebabkan oleh kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat pada anak dan remaja. Kekerasan ini terjadi dirumah, disekolah, dan di lingkungan tempat bermain anak. Kekerasan ini dilakukan melalui kekerasan psikologis yang terinternalisasi dalam diri anak dan remaja sehingga mendorong anak dan remaja melakukan tindakan atau upaya bunuh diri. Faktor lain disebabkan oleh karena ketidakmampuan anak dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh anak dan remaja. Faktor ini terjadi akibat tekanan yang begitu besar dan membuat anak menjadi bingung sehingga menyebabkan anak atau remaja menjadi depresi sehingga anak mengambil cara untuk menyelesaikan permasalahannya dengan tindakan diluar prilaku anak dan remaja pada umumnya.
  2. Upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja yaitu dengan meningkatkan peranan, fungsi, dan tugas keluarga, dengan cara memberikan perhatian, bimbingan, dan bantuan untuk membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi anak dan remaja. Pada tingkat institusi pendidikan sekolah diharapkan mampu memberikan rasa aman dan nyaman dalam proses belajar mengajar tanpa kekerasan. Pada tingkat masyarakat,  kelompok masyarakat diharapkan menajamkan kembali kepekaan terhadap kondisi sosial dan secara aktif bersama-sama membantu mencarikan solusi terbaik dalam memecahkan permasalahan anak dan remaja khusus bunuh diri anak dan remaja, Pada tingkat negara upaya pencegahan bunuh diri anak dan remaja dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kembali peranan undang-undang perlindungan anak dalam meminimalisir praktek-praktek kekerasan psikologis yang berdampak terhadap bunuh diri anak dan remaja.

 

B. Saran

Untuk mencegah tindakan atau upaya bunuh diri yang dilakukan oleh anak dan remaja diperlukan upaya yang menyeluruh oleh segenap lapisan masyarakat seperti keluarga, tenaga pendidik, para pakar dari berbagai disiplin ilmu. Melalui undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pemerintah perlu mempertimbangkan dibentuknya undang-undang anti kekerasan verbal yang diharapkan mampu melindungi anak dan remaja dari prilaku kekerasan psikologis sehingga berperan aktif dalam memperkecil angka bunuh diri yang terjadi pada anak dan remaja Pemerintah juga diharapkan mempertimbangkan dibentuknya biro pencegahan bunuh diri yang bekerjasama dengan lembaga lain dengan tujuan menerima laporan kasus bunuh diri, mempelajari dan mengatasi fenomena bunuh diri, dan mensosialisasikan lembaga tersebut melalui seminar dan mengkampanyekan gerkan anti bunuh diri kepada masyarakat khususnya anak dan remaja.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 A.  Buku

 Adami Chazawai, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002.

————————-, Pelajaran Hukum Pidana Bagian-3 Percobaan dan Penyertaan , PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002.

Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1994.

B. Simandjuntak, Patologi Sosial, Tarsito, Bandung, 1985.

Budiyanto, Dasar-dasar Ilmu Tata Negara, Airlangga, Jakarta, 2003.

Bonger, Pengantar Tentang Krimiologi, PT. Pembangunan, Jakarta, 1955.

Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003.

Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Cv Mandar Maju, Bandung, 1989.

Kartini Kartono, Patologi Sosial, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997.

Lilik Mulyadi, Kapita Selekta Hukum Pidana Kriminologi dan Viktimologi, Djambatan, Jakarta, 2004.

Mulyana Kusumah (ed), Hukum dan Hak-hak Anak, CV. Rajawali, Jakarta, 1986.

Romli Atmasasmita , Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika Aditama, Bandung, 2005.

Sarlito Wiriawan, Psikologi Remaja, Rajawali, Jakarta, 1989,

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005.

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 2007.

Topo Santoso dan Eva Achjani, Kriminologi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

Wagiati Soetodjo, Hukum Pidana Anak, PT. Refika Aditama, Bandung, 2008

Waluyadi, Hukum Perlindungan Anak, CV. Mandar Maju, Bandung, 2009.

W.F. Maramis, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangg, Surabaya, 1998

Yayasan Semai Jiwa, “Bullying. Mengatasi Kekerasan Di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Kita”., PT. Grasindao, Jakarta, 2008

Yesmil Anwar, Saat Menuai Kejahatan, Unpad Press, Bandung , 2004.

Yesmil Anwar dan Adang, Pembaharuan Hukum Pidana, PT. Grasindo, Jakarta, 2008.

———————————-, Sistem Peradilan Pidana, Widya Padjajaran, Bandung, 2009

 

B.   Perundang-undangan

Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak.

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Penjelasan Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Penjelasan Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

 

C. Sumber Lain

A Brilianto, “Bullying dalam karya “Kecil-kecil punya Karya”, http//wwwkompasiana.com diakses pada tanggal 8 februari 2011.

Bagian Data dan Pelaporan, Sekertariat Lembaga Perlindungan Anak Jawa Barat, Maret 2011.

Komang Suadnyani, “Dua tahun UU perlindungan anak, pelaksanaan masih jauh dari harapan”. http://www.kompas.com/news.htm, senin 20 Desember 2004, diakses pada tanggal 12 september 2009 pada pukul 23.10.

Maryadie Beno Junianto. Selama Tahun 2008 telah terjadi 19 kasus bunuh diri anak”., http://www.Viva news .com/news.htm diakses pada tanggal 26 juli 2009 pukul 21.35

M. Clara Wresti, “orang Tua Kunci Mental Anak.”, http:www.kompas.com/news.htm, diakses pada 26 Juli 2009 pukul 21.30.

Luki Aulia.”Mereka butuh perhatian dan pengertian”., http://www.kompas.co.id/kesehatan/news.htm diakses pada tanggal 26 juli 2009 pukul 21.30

“Kasus Bunuh diri jepang mencapai 30 ribu”, http://www.kapanlagi.com/news.htm diakses pada tanggal 24 November 2009 pukul 20.00

Hidayatullah .”Angka Bunuh Diri Anak-Remaja di Amerika Serikat Naik”., http://www.arrahmah .com/news.htm diakses pada tanggal 6 Desember 2009 pukul 20.25

“Siswa SD di Tegal Berupaya Bunuh diri Gara-gara menunggak Uang sekolah”., http://www.kompas.com/news.htm diakses pada tanggal 27 juli 2009 pukul 10.25

“Karena Miskin, Ibu Ajak Anak Bunuh Diri”., http//www.Harian Surya.com/news.htm diakses pada tanggal 12 september 2009 pada pukul 23.00.

Rahmat Sentika, “Peran Ilmu Kemanusiaan dalam Meningkatkan mutu, Manusia Indonesia, Melalui Undang-undang Perlindungan Anak.”,  www.fsrd.itb.ac.id diakses pada Januari 2010 pukul 10.40.

Rekaman Video Andy F Noya  dalam Talkshow Kick Andy dalam “Tema Bunuh diri Anak dan Remaja”., 15 oktober 2010.

Nova Riyanti Yusuf, “Bunuh Diri dan Upaya Pencegahannya”., http//www.blog.com. bunuh diri dan pencegahannya.htm, diakses pada juni 2012

Hasil Rekaman Wawancara dengan Fajar, Bagian Data dan Pelaporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Maret 2012

Hasil Wawancara dengan Kamal, Lembaga Swadaya Masyarakat Semai Jiwa,  2 Maret 2012

End Note

 [1] Luki Aulia.”Mereka butuh perhatian dan pengertian”, http://www.kompas.co.id/kesehatan/news.htm diakses pada tanggal 26 juli 2009 pukul 21.30.

[2] Brilianto. “Bullying dalam  karya “kecil-kecil punya karya””. http// www. kompasiana.com diakses pada tanggal 8 februari 2011.

[3] Lihat penjelasan Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

[4] Kamus Besar bahasa Indonesia.

[5] Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Cv Mandar Maju, Bandung, 1989, hlm 144.

[6] Sebenarnya aku tak akan Bunuh diri http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/08

[7] Ibid.

[8] Rekaman wawancara Andy F Noya dengan Kriminolog Ronny Nitibaskara dalam program talk show Kick Andy dengan tema Bunuh diri Anak dan Remaja 17 November 2010.

[9] Ibid.

[10] Log.Cit ,Rekaman wawancara Andy F Noya.

[11] Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010, hlm.61

[12] Ibid.

[13] Yesmil Anwar dan Adang, Kriminologi, PT. Refika Aditama, Bandung, 2010,hlm 74.

[14] Ibid hlm 75.

[15] Hasil wawancara dengan Kamal, Lembaga Swadaya Masyarakat Sejiwa, 2 Maret 2012.

[16] Ibid.

[17] Topo Santoso dan Eva Achjani Zulva, Kriminologi, PT. Raja Grafindao Persada, Jakarta, 2010, hlm 64

[18] Ibid .

[19] Ibid.

[20]  Topo Santoso, Op.cit, hlm 64

[21] Kamal, Op.cit.

[22] Ibid.

[23] Hasil wawancara dengan Fajar, Bagian data dan pelaporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 7 Maret 2012.

[24] Topo Santoso, Opcit, hlm 64.

[25] Yayasan Semai Jiwa, “Bullying Mengatasi Kekerasan Di Sekolah dan Lingkungan Sekitar anak”, PT. Grasindo, Jakarta, 2008 hlm 68.