Keluar dari zona nyaman sering kali menjadi hal yang menakutkan bagi mahasiswa. Banyak dari kita memilih untuk menjalani rutinitas kuliah-pulang saja tanpa berani menantang potensi diri. Padahal, masa perkuliahan adalah momentum emas untuk menempa mentalitas dan mengasah kapasitas pada diri kita.
Langkah awal tersebut memang terasa berat, bahkan sempat diwarnai keinginan untuk mundur, Joshua Alexander Christian Hutapea, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran angkatan 2023 ini sukses mengukir prestasi gemilang. Ia meraih Juara 1 Kompetisi Debat Hukum Piala Bergilir Prof. Dr. Jimly Asshiddqie, S.H. Indonesia Law Debating Competition FH UI 2025.
Menembus Batas Diri Lewat Latihan Mandiri
Joshua memulai kompetisi ini tidak dengan perjalanan yang mudah ataupun fasilitas yang serba mewah. Semua berawal dari inisiatif personal yang kuat untuk berkembang. Bersama rekan-rekannya, Joshua memulai langkah awal dengan membentuk tim pribadi dan konsisten melakukan latihan mandiri secara intensif selama satu bulan penuh demi menguasai materi debat.
Tantangan berikutnya datang saat ia harus mengikuti seleksi internal individu di Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) FH Unpad. Berkat kegigihannya, ia berhasil lolos dan resmi terpilih menjadi delegasi kampus. Proses ini membuktikan bahwa peningkatan kapasitas diri harus dimulai dari keberanian mengambil first step. Kita harus berani mencoba, meskipun harus merangkak dari bawah.
Pengorbanan di Balik Ketatnya Persiapan Lomba
Joshua memulai perjalanan sesungguhnya saat memasuki masa karantina sebagai delegasi. Selama tiga bulan, Joshua dan timnya harus menjalani pola latihan yang sangat ketat. Diskusi dan simulasi di kampus sudah menjadi rutinitas harian mereka, bahkan biasanya dari jam 1 siang hingga jam 10 malam. Pada fase-fase krusial, mereka sering kali baru pulang jam 6 pagi, padahal jam 7.30 pagi sudah harus kembali masuk kelas kuliah.
“Paling berkesan adalah pengalaman hampir menyerah, sakit, dan jadi orang yang bener-bener berbeda,” ungkap Joshua saat mengenang momen tersebut. Sebelum terjun ke dunia kompetisi, ia mengaku bukan tipikal orang yang berani berargumen di depan umum atau menyukai tekanan tinggi. Namun, tekanan psikis dan fisik ini yang justru memaksa dirinya untuk beradaptasi dan bangkit dari zona nyamannya menuju ranah kompetitif yang dinamis.
Titik Balik Menghadapi Tekanan dan Mental Drop
Perjalanan menuju podium juara di FH UI ternyata tidak berjalan se mulus itu, Joshua sempat mengalami fase krusial saat kondisi fisik dan psikisnya menurun drastis. Berada di lingkungan perlombaan nasional yang penuh tekanan, sempat membuatnya ingin menyerah di tengah jalan.
Sebelum kompetisi ini, Joshua bukanlah tipe orang yang suka berargumen di bawah tekanan tinggi. Namun, momen sulit tersebut justru menjadi titik balik baginya untuk tumbuh. Melalui prinsip hidupnya yang kuat, yaitu adapt, resilience, dan berserah kepada Tuhan, ia berhasil mengontrol rasa takutnya. Tekanan besar itu berhasil ia ubah menjadi pemicu untuk membentuk mentalitas yang tangguh.
Personal Branding yang Baru
Kerja keras yang dilakukan selama berbulan-bulan akhirnya terbayar lunas ketika Joshua bersama timnya sukses melaju hingga ke babak final di Universitas Indonesia. Pencapaian sebagai finalis tidak hanya memberi kebanggaan tersendiri, tetapi juga memberikan nilai plus bagi portofolio akademiknya. Pengalaman ini menjadi peluang bagi Joshua untuk membuka personal branding yang baru bagi dirinya di lingkungan kampus.
Pascalomba, Joshua banyak mendapatkan tawaran untuk berkolaborasi, diundang menjadi pembicara dalam berbagai forum, serta dipercaya menjadi mentor bagi adik tingkatnya. Secara karakter, proses berpikirnya kini jauh lebih terstruktur dan matang sebagai calon sarjana hukum. Di organisasi pun kariernya terus menanjak, kini ia mengemban amanah sebagai Vice President of Criminal Law Student Association serta Head of Alumni Affairs Moot Court Society.
Pesan Joshua: Dobrak Batasan dan Keluar dari Zona Nyaman
Bagi Joshua, cara mengembangkan skill tidak akan pernah berhasil jika kita terus bertahan di area yang aman. Mentalitas kita ditempa untuk lebih tanggung dari lingkungan kompetitif yang melelahkan itu. Lingkungan sekitar mungkin meragukan kapasitas pada diri kita, namun jadikan keraguan tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan sebaliknya. Pengalaman Joshua membuktikan bahwa prestasi yang berskala besar selalu lahir dari keputusan-keputusan kecil untuk berani dan konsisten mencoba kemampuan diri.
“Kalau rasanya belum sakit, ngga enak, atau ngga nyaman, berarti kamu masih mampu buat memberikan lebih banyak, entah itu dalam usaha, waktu, ataupun kemampuanmu. Kita berkembang saat kita tidak merasa nyaman saat melakukannya,” ujar Joshua memberikan sebuah pesan motivasi yang mendalam bagi seluruh mahasiswa.
Prestasi yang diraih Joshua menunjukkan bahwa keberanian untuk mencoba, konsistensi dalam berproses, serta komitmen untuk terus berkembang dapat menjadi modal penting dalam meraih pencapaian di tingkat nasional. Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Written by: Alya Neysa Putri
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
E-mail: [email protected]